Memilih adalah hal yang paling tidak menyenangkan.
Apalagi ketika harus menentukan kemana kita akan melangkah setelah cukup lama
atau terbiasa dengan kondisi yang membuat kita nyaman, comfort zone.
Tapi, memilih harus dilakukan terlebih saat segala
sesuatu yang telah dilakukan membuat kita terlena. Seolah-olah bergerak,
padahal mungkin tidak. Saat situasi membuat kita bertanya ‘apakah sudah berada
di jalan yang baik’. Saat kita sendiri khawatir akan tindakan yang selama ini
dilakukan benar, padahal mungkin keliru. Ya, keraguan. Saat, kita sendiri
meragukan langkah yang sudah kita tempuh.
Dan, diantara sekian keraguan. Ada satu ketakutan
besar. Entah menamakannya apa. Kalau saya menyebutnya ‘keberkahan’. Saat saya
sendiri ragu dengan ‘keberkahan’ itu, satu kesimpulan yang bisa diambil. Sia –
sia, apapun usaha yang dilakukan. Tidak akan ada maknanya sebesar apapun
pencapaian yang sudah saya peroleh. Jika ‘keberkahan’ tidak menyertainya.
Seolah terasa hasilnya, padahal semu. Kembali lagi, itu hanya dari sudut padang
saya. Entahlah benar atau tidak. Saya bukan ahli syariah. Tapi, begitulah saya
mendefinisikannya.
Saat kondisi itu terjadi pada saya. Keraguan atas
semua yang saya lakukan memasung saya. Hingga saya tak mampu lagi melangkah.
Saya hanya ingin berhenti. Stop. Kalau bisa, ingin sejenak menghentikan waktu
bersama diamnya saya. Hingga saya teryakinkan apa yang harus saya lakukan.
Hingga saya merasa lega, cukup berenergi kembali untuk melangkah.
Mungkin terkesan pasrah, ketika saya memilih diam.
Buat saya, diam adalah mentiadakan diri. Me-nol-kan diri. Menetralkan diri. Dan
membiarkan tangan-Nya, menuntun saya dalam keyakinan. Juga, menguatkan diri
untuk keyakinan yang mungkin kelak, tak pernah saya pikirkan untuk menjadi
pilihan saya. Namun, saya yakin begitulah cara-Nya, menuntun saya. Mendorong
saya untuk bergerak, pada tempat yang seharusnya saya syukuri kelak. Tempat
yang akan banyak membuat saya belajar. Memantaskan diri. Dan proses yang
seharusnya menambah keyakinan saya pada kuasa-Nya. Itulah pilihan yang berkah,
menurut versi saya.
So, just take a deep breath. Lepaskan semua beban.
Jenuh. Dan kepenatan. Pasrahkan. Berdo’a. Pantaskan diri. Hingga keyakinan itu
tumbuh. Kemudian pilihlah atas apa yang kamu yakini. Jalani semua prosesnya.
Berdo’a. Pantaskan diri. Syukuri. Nikmatilah setiap prosesnya. Yakinkan diri
bahwa itulah pilihanmu. Setidaknya itulah kalimat untuk saya menasihati dan
memotivasi diri sendiri.
Let’s move..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar